Bebaskan Pikiran Anda Saat Menulis (Feel free for writing)

Pernahkah anda merasa ingin menulis sesuatu mungkin  pengalaman hidup atau sekedar berbagi cerita menarik, tapi setelah anda berada di depan layar computer atau laptop seketika itu juga pikiran anda mulai tidak focus untuk memulainya?

Merasa kurang mampu untuk menulis, padahal konsep sudah tersusun rapi dibenak anda. Dan akhirnya menunda untuk menulis kemudian lupa.

Ya, saya rasa semua orang pernah mengalaminya terutama yang masih pemula dalam bidang tulis menulis. Seiring dengan bertambahnya jam terbang akan menulis masalah tersebut akhirnya dapat teratasi. Saya alami hal itu akhir-akhir ini, karena semasa saya masih SMA masih sering menulis, tapi setelah mulai kuliah kebiasaan baik itu mulai saya tinggalkan. Entah kenapa, seharusnya saya sebagai mahasiswa harus sering-sering menulis karena nanti cepat atau lambat pasti menghadapi yang namanya tugas akhir atau skripsi.

Setelah lama tidak memposting di blog membuat saya merasa kemampuan menulis mulai menurun. Ya, menulis tidak harus di blog kalau kita mau kita bisa menulis dimana saja. Tema yang ingin kita angkat ditulisan tersebut juga bebas tidak harus terkotak dengan tema tertentu karena akan menghambat kreatifitas untuk mengeksplorasi tema dan akhirnya tulisan akan terkesan tidak focus. Pikiran juga harus bebas saat menulis, jangan sampai merasa terbebani saat menulis. Penulis harus merasa senang (have fun) dengan apa yang akan ditulisnya karena konsentrasi dan suasana hati mempengaruhi kualitas tulisan.

Pernah saya mengikuti seminar mengenai cara mudah menulis di suatu event khusus,  agak lupa nama seminar dan pembicaranya. Tapi saya tidak lupa point penting yang disampaikan oleh pembicara seminar, yaitu menulis bagaikan seseorang menaiki sepeda pancal. Mula-mula memang terasa berat tapi ketika kita telah memulainya secara kk  onsisten maka akan terasa ringan bahkan tak perlu dipedal lagi sepeda sudah jalan sendiri dan tema tulisan yang akan dieksplorasi bagaikan lintasan atau jalur yang akan dilewati oleh sepeda tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

ARTI DEHEM ITU ADALAH?

Setiap pagi saya selalu menyiapkan semuanya sendiri. Mulai dari urusan dapur (sarapan) sampai urusan peralatan sekolah dan buku-buku pelajaran yang akan dibawa. Setelah waktu yang telah menjadi deadline masuk sekolah, kalau terlambat sedikit gerbang akan menutup dan menugggu sampai dibukakan. Saya bergegas untuk berangkat dengan memangul tas di bahu sebelah kiri dan menjinjing sepatu saya di tangan kanan. Tak lama setelah saya keluar dari rumah, tiba-tiba salah seorang tetangga yang tidak menampakkan diri mengeluarkan suara batuk yang disusul oleh suara dehem (ohok ek…ehm…ehm). Spontan saya langsung mencari sumber suara tersebut. Saya tengok depan rumah tidak terlihat tanda-tanda orang beraktivitas. Tengok samping kanan kiri juga tidak melihat orang, hanya tumbuhan yang bergoyang-goyang didepan rumah saya. Saya jadi berpikir apa tumbuhan itu berdehem kepada saya karena saya lupa memberinya air tadi malam. Semoga saja tidak, dengan waspada saya berlari menuju ke sekolah. Syukurlah saya tidak terlambat masuk. Di sekolah saya masih memikirkan kejadian pagi tadi apakah tumbuhan di rumah saya diberi kemampuan oleh Allah swt untuk berdehem layaknya manusia, sungguh suatu kekuasaan milikNya yang tidak terbatas. Kemudian saya memutuskan untuk langsung setelah sholat ashar berjamaah di sekolah. Sesampainya dirumah saya melihat kearah tumbuhan di depan rumah saya. Tiba-tiba, dari arah yang berlawan dengan sudut pandang saya terdengar suara dehem yang sama persis gak mbuakblas dengan dehem tadi pagi. Spontan saya langsung melihat dari arah datangnya dehem tersebut. Terkejutlah saya ketika mengetahui kalo yang saya lihat juga sekumpulan populasi tumbuhan. Tapi itu milik tetangga depan saya. Kemudian saya berpikir hal yang sama seperti sebelumnya. Apakah tumbuhan milik tetangga saya ini mendehemi saya tiba-tiba saya melihat pemiliknya sedang duduk di halaman rumahnya, ya … hanya duduk saja dan melihat ke arah saya. Kemudian saya langsung masuk rumah. Baiklah dapat kita ambil kesimpulan sari kisah diatas bahwa dalam hidup kita tidak boleh egois dalam artian kita hanya memperdulikan deng an sesama manusia tanpa memeperhatikan makhluk hidup yang lain seperti tumbuhan misalnya. Memang kisah ini terelihat seperti fiksi. Tapi marilah kita mengambil sisi baik dari kisah ini.
Keep your spirit of blogging!!!