smart_city_image

Smart Society Dahulu Smart City Kemudian


Terinspirasi dari peribahasa Indonesia yang sempat dijadikan lirik lagu salah satu grup band yang terkenal di tahun 90-an. Yaitu berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian yang berarti apabila ingin mendapatkan kesenangan atau keberhasilan di kemudian hari haruslah berani bersusah payah terlebih dahulu. Oh ya, artikel ini saya buat sebagai tanda kecintaan saya dalam semarak hari kemerdekaan Indonesia yang ke 71 tahun…Merdeka!.

Sekaligus sebagai keikutsertaan saya dalam lomba blog #KitaIndonesia yang diselenggarakan oleh PT. XL Axiata Tbk bekerjasama dengan Rumah Blogger Indonesia.

Sketsa Smart CityBeberapa tahun ini ada kata atau istilah yang ramai menjadi bahan diskusi di berbagai media dalam topik pembangunan Indonesia, yaitu smart city. Bahkan kata ini seakan-akan menjadi jargon magis para pemimpin atau calon pemimpin untuk menarik simpati dari masyarakat.

Ditinjau dari kata smart city yang terdiri dua kata dalam bahasa asing yaitu smart yang berarti cerdas atau pintar dan city yang berarti kota atau wilayah perkotaan. Bila digabungkan maka artinya menjadi kota pintar, tentu saja pengertiannya tidak sama dengan smart phone yang berarti telepon pintar. Menurut saya smart city merupakan konsep mengenai kota yang memanfaatkan kekuatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola sumber daya yang ada sehingga mempermudah kehidupan dan mensejahterakan warganya. Bila anda kurang setuju dengan pengertian smart city yang saya paparkan diatas boleh isi komentar di bawah untuk berbagi pendapatnya. Karena kapasitas saya sebagai pengamat selama ini masih belum teruji seberapa besar tingkat keobyektifannya…hehehehhe.

Sedangkan istilah smart society adalah istilah yang merujuk kepada masyarakat yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam menunjang pekerjaan dan aktivitas ekonominya.

Beberapa kota di Indonesia yang menyatakan siap untuk mewujudkan smart city seperti Jakarta, Bandung dan kota kelahiran saya yaitu Surabaya yang mulai terlihat melakukan tata kota yang cukup besar dampaknya. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan dalam pikiran saya. Salah satunya apakah smart city harus tetap diwujudkan meskipun pemanfaatan teknologi informasi di tengah kehidupan masyarakat belum sepenuhnya efektif dan optimal ?

Dari pada pertanyaan ini saya simpan sendiri dan berakhir jadi masalah (jerawat atau kukul) maka saya putuskan untuk buat posting saja mengenai hal tersebut, hmmm…saya rasa ini satu langkah yang smart dan solutif untuk seorang blogger jomblo seperti saya (hmmm….😥 … terharu melihat nasib).

Awal mula munculnya pertanyaan saya tersebut adalah ketika mendengar hasil survey yang dilakukan oleh salah satu lembaga survey independen di Indonesia yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia menggunakan internet sebagian besar untuk mengakses konten – konten hiburan. Sepertinya perlu ada edukasi yang lebih dari sekedar penyuluhan kepada masyarakat bahwa pemanfaatan internet tidak hanya sebatas untuk hiburan semata namun bisa dimanfaatkan mendukung solusi dari permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Lain lagi ceritanya kalau ada yang berpendapat bahwa akses ke konten hiburan adalah salah satu solusi yang dibutuhkan.

Salah satu unsur substansial dalam mewujudkan smart city adalah masyarakat, karena merekalah yang merasakan manfaatnya dan merekalah yang menggunakan atau istilah kekiniannya end user. Sebagaimana semboyan koperasi yang telah dikenal luas rakyat Indonesia yaitu dari anggota oleh anggota untuk anggota, bila itu dihubungkan (dengan metode cocok-logi ) maka untuk mewujudkan smart city tidak hanya semata – mata tugas dari pemerintah atau pemimpin kota setempat saja melainkan juga dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat kota tersebut. Contoh partisipasi yang paling kecil menurut saya adalah memberikan umpan balik terhadap program – program yang sejalan dengan perwujudan smart city ke pemimpin kota. Jangan hanya diam saja namun ketika tidak suka melakukan kritik negatif melalui media sosial, dan menurut saya gaya seperti ini tidaklah solutif untuk mewujudkan smart city yang berkelanjutan.

Tentunya masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai program – program apa saja yang dikerjakan oleh pemerintah kota yang berkaitan dengan smart city. Jangan sampai salah kaprah seperti saya dengan menganggap kalau sudah pasang access point WiFi di kompleks rumah saja sudah dianggap smart city (hahahaha…).

Wifi

ini access point WiFi, bukan smart city😀

 

tiang berkabel ruwet

kalau ini…ah sudahlah

 

Tentu untuk mewujudkan smart city bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi bukanlah hal yang bisa diselesaikan dalam waktu satu atau dua malam (emang kamu kira acara hackathon apa…wkwkwkwk). Pasti ada tantangan dan kendala karena ini merupakan suatu terobosan dalam pemerintah kota yang membutuhkan pengorbanan, meskipun saya tidak terjun langsung dalam pewujudan smart city di Surabaya (heeei kenapa kamu diam saja padahal kamu tahu…..hehehe). Setelah menjelaskan panjang lebar opini saya diatas, kembali lagi ke pertanyaan awal saya yaitu apakah smart city harus tetap diwujudkan meskipun pemanfaatan teknologi informasi di tengah kehidupan masyarakat belum sepenuhnya efektif dan optimal?

Kalau menurut saya sebagai warga negara Indonesia, jawabannya adalah….. Iya meskipun menurut pengamatan saya perlu ada smart society lebih dulu. Karena hal itu merupakan salah satu langkah nyata untuk membangun Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi. Bagaimana menurut anda?

 

**sumber gambar:

http://smartcities.ieee.org

http://economydecoded.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s